Archive for the ‘Sentilan’ Category

Pengembara Maut
Januari 21, 2009

Lama juga tidak ngisi blog ini. Ternyata saya tak cukup rajin untuk selalu mengupdate dua blog berbeda pada saat yang bersamaan.  Tapi sudahlah…hari ini mendadak ingin menulis peristiwa humaniora, menggelikan namun sesungguhnya juga tragedi manusia.

Saat membuka Suara Merdeka Online, Rabu (21/1) ini, mata saya terantuk pada sebuah berita berjudul Ibu dan Anak Nekat Akan Bunuh Diri. A..ha! Ingatan saya seperti mengenal kasus ini. Langsung saya klik dan buka ceritanya. Berita itu mengisahkan seorang ibu setengah baya, mengaku bernama Suryati yang bersama anaknya merebahkan diri di rel dekat Stasiun Balapan Solo. Niatnya tentu saja bunuh diri.

Membaca garis besar berita itu, saya jadi yakin itulah sosok yang saya juluki si Pengembara Maut.  Wanita itu – siapapun nama aslinya – tertangkap dalam ingatan saya sejak Maret 2008, sedikitnya sudah mencoba bunuh diri bersama anaknya di 4 kota yang berbeda, Jambi, Surabaya, Jogja dan Solo. Di setiap kota, ia membuat heboh dengan ‘atraksi’-nya, yakni percobaan bunuh diri.

Tak percaya? Coba simak kelumitan koran Jambi Express, 11 Maret 2008, berikut. Diduga depresi, Widi (36) warga pendatang, bersama anak perempuannya berusia 6,5 tahun, Senin (10/03) kemarin, sekitar pukul 13.30 WIB, mencoba bunuh diri dengan cara berbaring di jalan raya.  “Motifnya ibu tersebut depresi dan stres ditinggal suaminya,” ujar Kapolsek Jelutung, AKP Zulhir Destrian.

Lihat lagi artikel di detiksurabaya, 4 Agustus 2008, berikut.  Aksi percobaan bunuh diri dilakukan Sri widyawati (42) dan anaknya Mawar Indah Permatasari (6) di Jalan Raya Rejoso Pasuruan. Mereka duduk di badan Jalan Raya Rejoso, Pasuruan.  “Tadinya, mereka mau ke Jember. Tapi, di tengah jalan, suaminya meninggalkannya,” kata Kapolsek Rejoso, AKP Sukari.

Lima bulan setelah kejadian itu, si ibu muncul di Yogya. Suryanti (43) warga Bayung Lintir, Provinsi Jambi, Sumatera, Rabu nekat mengajak anaknya yang baru berumur 8 tahun untuk melakukan aksi bunuh diri dengan sengaja tidur di atas rel kereta api di bawah jembatan layang Jalan Dr Sutomo, Danurejan, Yogyakarta. (Antara, 9 Januari 2009). Dua minggu kemudian, seperti di awal cerita ini, mereka terekam media saat ‘beraksi’ di Solo.

Saya tidak hendak menyalahkan bu Suryanti, Widi atau siapapun namanya. Mungkin saja ia benar-benar stress tak tahu harus berbuat apalagi manakala menghadapi kenyataan hidup sebagai papa yang sebatang kara. Atau bisa juga, ia sekadar mengisi secelah peluang yang ia bisa lakukan, untuk mencari simpati guna menyambung hidup ala kadarnya. Tidak, saya tak berhak menghakiminya.

Yang saya masygul-kan adalah, mengapa negara ini tak punya instrumen agar peristiwa konyol (namun sesungguhnya menyedihkan) tak terus terjadi. Polisi mestinya tanggap, bukan sekadar memberi surat jalan gratis plus sedikit uang saku bekal perjalanan agar si ibu Suryanti itu bisa keliling nusantara kembali melanjutkan atraksi mautnya.

Dinas Sosial-pun (Halo! Anda belum tentu tahu peristiwa kayak begini) semestinya mampu memonitor kasus-kasus seperti ini dan melakukan tindakan agar kasus sosial semacam ini tak terjadi lagi. Dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia(KPAI) – Hai apa kabar? – bukanlah nasib gadis cilik 8 tahun yang selalu ‘mengembara maut’ karena ibunya pun layak untuk diperhatikan? Bukan hanya sibuk mengejar kasus yang terlanjur di-ekspose media massa.

Hmmmm…jangan sampai kita berharap hidup di negara yang salah ya…..(miris).