Archive for the ‘Plesiran’ Category

Masjid Banten
Februari 27, 2008

Kapan itu, 2 pekan lalu, saya baru saja mengantarkan kedua orangtua saya ke Merak. Jam masih menunjukkan pukul 13.00 WIB. Wah, masih bisa buat jalan nih. Sudah lama memang saya ingin sedikit mengeksplorasi wilayah Banten, bukan sekadar numpang mandi di Anyer atau Carita. Tujuan sudah saya tentukan, Masjid Agung Banten yang didirikan 400 tahun silam.

Istri saya mengangguk setuju, kebetulan anak kami, Fathan Athlaya Razendra, juga tidak sedang rewel. Langsung mobil saya larikan menyusuri tol Merak-Jakarta. Saya tak punya bekal navigasi, jadi praktis perjalanan kali ini cuma menerka-nerka saja. Trial and error-lah. Kalo nyasar ya balik lagi. Untungnya, sejak kecil saya menyukai peta hingga relatif mudah menentukan arah di negeri yang antah berantah.

Saya memilih keluar di pintu tol Serang Timur. Dari sana, kami masuk ke Kota Serang dulu untuk mengisi perut. Maklum, jam sudah menunjukkan 13.45, sementara kita belum makan siang. Inginnya sih makan makanan khas Serang, tapi cari rumah makan yang beginian ternyata gak ada yang ramai. Yang agak ramai justru Soto Kudus Menara. Terpaksa deh mampir ke situ. Rasanya standar tapi harganya murah. Bertiga (sama adik ipar juga) cuma habis Rp 35.000.

Petunjuk untuk menuju Masjid Agung Banten sebetulnya terbilang pelit. Saya cuma menemukan satu papan penunjuk Masjid Agung saat masuk kota Serang. Padahal, dari papan petunjuk terakhir itu, sedikitnya masih 4-5 persimpangan lagi untuk sampai ke situs Masjid Agung Banten. Beruntung dengan bekal ingatan dari Google Earth, akhirnya saya menemukannya juga.

Masjid Agung Banten terletak sekitar 12 km arah utara Kota Serang. (Soal sejarahnya, silakan tengok halaman INI). Kondisi jalan terbilang mulus walau cukup sempit. Menjelang sampai ke TKP, kendaraan harus menjaga kecepatan manakala harus berpapasan dengan mobil lain. Pukul 15.00 WIB, sampailah kami di Masjid Agung Banten. Saya masuk sendirian, karena mendadak Fathan ingin menyusu ibunya.

Bleng…begitu menapaki jalan ke arah masjid, saya sudah tidak nyaman. Masjidnya nyaris tidak kelihatan dari tempat saya parkir. Yang ada jalan yang membentuk koridor akibat kepungan PKL di kanan-kirinya. Tak hanya penjual sorban atau tasbih yang ada di situ, yang jualan salak pondoh sampai VCD Bajakan juga ada. Saya bisa bayangkan, pelancong yang kebanyakan adalah peziarah takkan lagi bisa menangkap atsmosfer spiritual Masjid Agung Banten.

Terus terang suasana ini sudah cukup membuat saya neg. Lebih-lebih lagi setelah saya masuk ke dalam masjid. Kondisi bangunan memang cukup baik, tapi ya ampun tempat wudhu-nya itu lho. Kotor banget! Saya bisa lihat bekas bungkus mie instan, bekas bungkus rokok tergeletak di lantai tepat wudhu, sementara banyak orang (pasti ada di antara mereka pengurus masjidnya) berseliweran. Cuek saja. Dan ajaib, masih ada PKL tukang jual rokok di koridor tempat wudhu! Ck…ck

Satu lagi yang membuat saya terpaksa memberi nilai minus adalah komersialisasi Masjid Agung yang terkesan tak terorganisir. Uang masuk komplek wisata ini memang cukup murah, cuma Rp 2.000 per orang. Tapi di dalam komplek Masjid, untuk setiap jenis jasa, ada uang infaq (mungkin lebih tepat disebut palak, mengingat intimidasi dan ketidakjelasan pihak yang memungut). Begitu masuk masjid, sudah dihadang infaq, mau masuk area wudhu ada infaq lagi, mau ikut salat di dalam ada gondelan anak-anak kecil yang mengiba menjaga sepatu Anda. Mau nengok makam sultan? Bayar lagi!

Itu masih belum putus, jika berniat naik ke menara masjid. Menara ini letaknya persis di depan masjid yang menghadap ke arah timur. Pintunya kecil dan dijaga seorang pria. Saya berniat masuk. Saya pikir dengan membayar di penjaga pintu, saya bisa langsung naik ke atas. ternyata saya salah. Masih ada 2 pos lagi yang harus disuapi lembaran Rp 1.000. Padahal menara itu tingginya cuma 25 meter. Bukan soal jumlah uangnya yang membuat kesal, tapi mekanisme serampangan yang membuat tidak betah.

Saya tidak lama di Masjid Agung Banten. Hanya naik ke menara dan menyempatkan diri untuk Shalat Ashar, setelah itu saya bergegas pulang. Saya pasti berpikir ulang untuk mengunjungi lagi kalo hanya sekadar berwisata. Saya pikir pihak berwenang di Propinsi Banten mestinya care dengan isu ini. Bagaimana membuat aset wisatanya bisa lebih menarik tanpa meminggirkan masyarakat di sekitarnya…

Koridor menuju Masjid Agung

Koridor ke Masjid Agung banten

Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten

Menara

Pintunya kecil dan lorongnya sempit. Anda yang berbobot lebih dari 100 kg sebaiknya tidak nekat masuk, daripada jadi masalah.

Menara

Pemandangan dari atas menara

Pemandangan