Archive for the ‘Cemilan’ Category

Kemakmuran Instan
Maret 29, 2008

“Kemakmuran bagi sebagian besar orang muda adalah nickname dari strategi pengelolaan utang

TADI PAGI. Kendaraan yang saya tumpangi beriringan dengan sebuah mobil pick up milik salah satu perusahaan leasing. Di atas mobil, terlihat dua buah sepeda motor bebek dengan nomor polisi Bogor. Ah, apa kabarmu tuan-tuan pemilik motor-motor itu sebelumnya?

KEMARIN. Saya memandang dari antrean kasir di sebuah pasar swalayan di Serpong. Di kasir seberang, seorang ibu muda mengeluarkan dompet hitam dari tasnya. Di belakangnya, sesosok gadis kecil berkuncir kuda memegang ujung bajunya. Ibu itu menyodorkan selembar kartu kredit pada kasir. Apa yang kau beli, ibu?

MINGGU LALU. Counter yang paling ramai dalam sebuah pameran komputer di Jakarta justru milik sebuah perusahaan pembiayaan. Di sela-sela puluhan orang, dua orang anak muda duduk lesehan di pojok ruangan mengisi form. Di dekatnya, seorang remaja rupawan cemberut menunggui ayahnya yang tak kunjung dipanggil-panggil petugas leasing. Sementara di depan counter, seorang bapak tengah adu mulut, entah dengan siapa. Berdiri melewatinya, seorang jejaka kecil 10 tahun, tak henti-hentinya menyentuh ujung kardus laptop yang ditenteng ayahnya pulang ke rumah. Yakinkah benda itu benar kau perlukan, dik?

BULAN LALU. Mendadak, saya ada dalam sebuah mobil teman lama saya. Bukan mobil yang baru namun cukup membuat kepala tetap adem. Sembari menyusuri Jakarta, ia bercerita pengorbanannya menyisihkan dana barang dua juta rupiah sebulan demi sebuah kalimat bernama kenyamanan di jalan. Sepadankah itu kawan?

TAHUN LALU. Teman saya, seorang analis kredit di sebuah bank nasional bercerita. Betapa sibuknya dia dalam beberapa bulan terakhir menyelesaikan antrean permintaan kredit. Mulai untuk pernikahan, renovasi rumah, buat warung tenda, beli home theatre baru atau sekadar jalan-jalan ke Pattaya. Ah sadarkah kau, engkaulah dewa bagi banyak orang?

ENAM TAHUN LALU. Saya mendamparkan diri bersama puluhan pasangan muda yang tengah menunggu antrean wawancara di sebuah bank. Sebelumnya, masing-masing dari kami mondar-mandir mengaduk-aduk berbagai perumahan mungil di pinggiran kota Jakarta. Rasanya, kami masing-masing tengah menyiapkan diri untuk merana bahagia.

Begitulah kondisi itu tercipta.

Iklan