Archive for the ‘Cemilan’ Category

Wasiat Pak Tuo
April 18, 2008

Suatu malam sekitar 15 tahun lalu, saya mendamparkan diri dalam sebuah kamar yang temaram di pelosok pedesaan Klaten. Saya menemani Pak Tuo – panggilan kakek saya – yang tertidur di pembaringan. Kesehatan Pak Tuo memburuk di bulan-bulan itu. Boleh dikatakan ia sekarat. Maklumlah, kata bapak dan paman-paman saya, usia Pak Tuo sudah lewat 100 tahun.

Saat itu sebetulnya saya tengah liburan sekolah dari sebuah SMA di TanjungKarang, Lampung. Waktu liburan sengaja saya habiskan di Klaten untuk menjagai Pak Tuo. Kenapa saya? Kata kerabat, saya lah cucu kinasihnya. Bukan cuma sekadar karena saya anak bungsu dari anak bungsunya, tapi juga kedekatan kami dimana di kala Pak Tuo sehat, saya lah yang selalu menemaninya minum teh dan makan emping saban sore.

Tiba-tiba Pak Tuo bangun menjelang tengah malam. Ia minta saya mendekat. Kami mengobrol pendek. Di ujung pembicaraan tanpa saya duga ia berkata, “Le, mengko nek wis gede, mbuk elingo ojo pisan njikuk bondo sing dudu hak mu.” – “Nak, nanti kalau sudah besar, selalu ingat untuk tidak mengambil barang yang bukan hakmu.” Saya mengangguk kala itu. Setelah itu, Pak Tuo tertidur. Empat hari kemudian ia berpulang.

Sampai kini saya masih ingat petuah itu dan berusaha sebisa mungkin memenuhinya. Bukan sekadar karena ia wasiat dari moyang saya, tapi juga karena prinsip hidup yang saya anut kebetulan pas dengan . Saya kira penting bagi kita untuk tidak mengakui apa yang bukan hak kita, tidak merugikan orang lain dan berusaha menjadikan diri berarti bagi orang lain.

Saya tidak tahu, apakah bapak saya juga pernah diberi wasiat tersebut. Tapi saya cukup terkesan dengan catatan hidup yang ditorehkannya hingga kini. Yang paling menonjol adalah kebersihannya dalam mengelola Koperasi Simpan Pinjam.

Syahdan, di era menteri koperasi dijabat Adi Sasono, ketika itu sektor koperasi benar-benar mendapat support penuh pemerintah. Dana ratusan miliar digelontorkan di seluruh negeri, Lampung tak terkecuali. Di Lampung, didirikan ratusan koperasi simpan pinjam. Satu kecamatan bisa ada 2-3 koperasi baru. Kebetulan bapak saya dipercayai mengelola salah satunya.

Apa yang terjadi saat ini? Di seluruh Lampung, dari ratusan koperasi yang didirikan di era Adi Sasono, hanya 2 yang masih aktif. Salah satunya dikelola bapak. Sisanya? Anda bisa melihatnya di berita-berita masa lalu, bagaimana dana koperasi dijadikan ajang pestapora banyak orang dan menyisakan tunggakan kredit yang memusingkan pemerintah.

Sebulan lalu saya membaca di media massa, kasus tunggakan dana koperasi di era Adi Sasono akan diputihkan. Hmm benar-benar negara yang aneh.

*) Maaf, jika postingan kali ini terlalu mengobral moral