Di rumah, saya punya ratusan album kaset penyanyi-penyanyi top. Mulai dari Kiki Maria, Kla, Jose Mari Chan, Guns N Roses sampai Queen. Perasaan, dulu gimana gitu kalo punya banyak koleksi kaset. Setidaknya kan jadi pintu buat modal kenalan dengan cewe…hehehe. Saya cuma penikmat gak ngerti musik, tapi konon kata orang musik sih, album adalah bukti eksistensi diri musisi dan penyanyi.
Tempo hari boleh jadi begitu, tapi kini tamsil bakalan basi. Tengok apa yang terjadi pada industri musik saat ini? Di Jawapos, ASIRI mengaku penjualan CD/Kaset artis lokal selama 2007 hanya 17 juta keping. Ini lebih buruk dari tahun 2006 yang masih menyentuh 24 juta keping. Ingat lho, angka 17 juta itu dibagi untuk puluhan atau ratusan artis yang saban bulan selalu meluncurkan album. Di lingkup global? Sami mawon.
Penyebabnya apalagi kalo bukan zaman. Era digital mengubah alur penjualan musik. Siapa sanggup menghadang si MP3, apalagi di negri dengan penegakan hukum yang rendah dan daya belinya rendah. Tinggal datang ke mal-mal atau nongkrong di warnet, lagu incaran sudah kesimpan di MP3 Player atau ponsel. Belinya cukup ketengan yang disuka, gak usah komplet album-albuman. Orang gak butuh lagi beli kaset dus CD. Sudi amat! Kira-kira begitu logika hitamnya.
Yang apes ya artisnya. Pencipta apalagi. Mrongos saja kalau masih berharap gepokan duit datang dari penjualan album. Artis sekarang menghitung rupiah dari penampilan mereka di panggung, mejeng dadadidu di TV plus syukur-syukur dapat proyek model iklan atau ditaksir produser jadi artis sinetron. Eh, satu lagi ding, kalau beruntung dapat rezeki nomplok dari Ring Back Tone (RBT).
RBT? Yup…Inilah indikator kesuksesan penyanyi masa kini. Bukan lagi album. Lagu yang RBT-nya laris, berarti artisnya juga bakalan ngetop. RBT masih ‘selamat’ memberi income bagi artis karena servernya berada di perator seluler, jadi susahlah melakukan diutak-utik oleh pembajakers. Coba kalau enggak, nasibnya pasti seperti ringtone yang sudah dikuburkan di Karet sono (hehehe).
Nah, di RBT, album tuh gak penting. Yang penting lagu. Operator cuma peduli pada lagu-lagu yang bakalan menghasilkan traffic (download) besar. Album, yang paling banter hanya punya satu, dua biji lagu top jadi gak esensial lagi. Ngapain beli 10 lagu, kalau yang disukain orang ternyata cuma 2 biji. Musisi pun akhirnya jadi males nyiptain banyak-banyak. Mendingan bikin satu, langsung dijual ke pasar.
Inilah yang saya sebut album hanya akan menjadi tamsil masalalu. Era digital memaksa pelaku industri musik menjual produk dengan cara ketengan. Tanda-tandanya udah banyak koq. Beberapa artis merilis album bertajuk re-package atau the best. Ini sebetulnya, sama saja dengan menjual lagu-lagu lama dan disisipi CUMA satu dua lagu baru. Yang lebih maju, ya langsung saja menjual lagunya dengan ketengan di outlet-outlet digital atau RBT.
Susahnya bagi pelaku industri musik di Indonesia, bagaimana jika RBT trend berakhir? Ingat lho, RBT sukses besar hanya di Korsel dan Indonesia, di negara lain sorry aja. Nah, itu alamat para pelaku industri musik harus mencari format penjualan baru, menjual musik digital ke pasar. Kalau sudah begini, ujungnya pasti ke penguasa juga.
Era eceran ya mas?
Dulu aku gumun lho, kalau di negara macam AS dan inggris, lagu2 dijual eceran, kenapa Indonesia tidak. Tapi dari tren terkini, kayaknya arahnya ke sana ya?
Pasti kesono Mon…bahkan peran produser rekaman jadi gak jelas. Industri musik yang baru bisa menihilkan fungsi mereka. Musisi bisa langsung jual produk ke pasar
iya juga yah..
(yg ga butuh 1 album mksdnya)
klo tentang album kompilasi gmn?
khan 1 band (misalnya) hanya kluarin 2 ato 3 lagu.
ya.. sprt album band2 indie gt deh..
Album kompilasi justru tanda-tanda kuat berakhirnya era album Mas Ale. Bukankah album kompilasi isinya single-single dari beberapa penyanyi? Saya koq cenderung bilang album kompilasi sekarang tujuan utamanya bukan memudahkan konsumen membeli lebih banyak lagu yang ia sukai (ibarat sekali dayung, 2-3 lagu terkantongi), TAPI lebih sebagai GONG penjualan single baru. Jadi lebih ke seremonial launching.
Soalnya, bila single-nya dijual langsung, pan di Indonesia mekanisme penjualan musik digital tak sebagus di Barat. Di sana, beberapa musik top kan kini memilih menjual langsung single-nya lewat i-tunes.
Sampai era ala i-tunes itu tiba di sini, saya pikir musisi/artis menyandarkan harapan income dari fee manggung dan iklan. Kalau toh album kompilasinya ternyata laris ya anggap aja sebagai bonus..
[...] Nuansa mendengarkan musik dengan MP3 player tentu tidak akan mampu menggantikan “feeling” yang muncul ketika datang ke konser secara live. Saya yakin, orang masih akan datang ke konser, meski mereka tiap hari sudah mendengarkan lagunya dari MP3 player yang mereka miliki. Kemudian dengan adanya fans club, mereka bisa menjual merchandise, dan jika mereka semakin laris dan dikenal orang, akan semakin sering diminta manggung di televisi yang bayarannya saya kira juga cukup mahal, atau pun menjadi bintang iklan, termasuk juga dengan menggiatkan Ring Back Tone yang cukup populer di Indonesia seperti termuat di sini. [...]